OPINI - Dampak Nyata MBG Bagi Generasi 2045

photo author
Saputra Yokalbar, YoKalbar
- Kamis, 9 Juli 2026 | 15:48 WIB

Dalam perspektif Islam, apa yang dilakukan MBG sesungguhnya menyentuh prinsip paling dasar dalam menjaga kehidupan manusia, yaitu hifz an-nafs (menjaga jiwa) dan hifz al-‘aql (menjaga akal) dalam kerangka Maqasid al-Shariah. Islam tidak pernah memisahkan antara tubuh dan ilmu. Keduanya saling menguatkan. Perintah untuk mengonsumsi yang halal dan baik—halalan tayyiban—dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 168 menegaskan bahwa kualitas makanan adalah bagian dari kualitas kehidupan, termasuk kualitas berpikir.

Bahkan dalam praktik ibadah, Islam mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan spiritual. Nabi Muhammad SAW mencontohkan pola makan yang tidak berlebihan, teratur, dan penuh kesadaran. Ini bukan sekadar etika makan, tetapi fondasi kesehatan yang menopang kejernihan akal. Dalam konteks pendidikan, pesan ini menjadi sangat relevan: bagaimana mungkin akal dituntut optimal jika tubuh diabaikan?

Lebih jauh, Islam memandang menuntut ilmu sebagai kewajiban. Namun kewajiban itu tidak berdiri di ruang kosong. Ia membutuhkan prasyarat. Memberi makan anak-anak agar mereka mampu belajar bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral kolektif—fardhu kifayah—yang jika diabaikan, seluruh masyarakat menanggung dampaknya. Dalam kerangka ini, MBG tidak sekadar program pemerintah, tetapi bisa dibaca sebagai ikhtiar menghadirkan keadilan sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Namun, seperti halnya kebijakan lain, MBG tidak tanpa tantangan. Hanya 45 persen siswa yang selalu menghabiskan makanan. Ada yang mengantuk setelah makan karena porsi dan waktu yang kurang tepat. Konsumsi buah dan sayur baru mencapai 42 persen. Ini menunjukkan bahwa memberi makan belum tentu sama dengan mendidik pola makan. Dalam Islam, berlebihan (israf) juga dilarang. Maka, optimalisasi MBG bukan hanya soal distribusi, tetapi juga edukasi: bagaimana makan secukupnya, bergizi, dan bertanggung jawab.

Di sinilah gagasan Stella Christie menjadi penting. MBG bisa menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak tidak hanya makan, tetapi juga belajar tentang gizi, keseimbangan, bahkan nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab. Ketika itu terjadi, MBG tidak lagi berdiri di pinggir sistem pendidikan, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan manusia seutuhnya—jasmani dan rohani.

Lalu kita sampai pada pertanyaan paling penting: apakah MBG cukup untuk meningkatkan prestasi?

Jawabannya: tidak. Tetapi tanpa MBG, upaya meningkatkan prestasi menjadi pincang.

Karena pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga kondisi siapa yang diajar. Kita terlalu lama memaksa anak-anak berlari dalam lomba yang tidak adil—sebagian berangkat dengan energi penuh, sebagian lain bahkan belum punya tenaga untuk berdiri. MBG tidak langsung membuat semua anak menang, tetapi ia memastikan garis start menjadi lebih setara.

Dan di sinilah klimaksnya: MBG bukan tentang makanan. Ia tentang martabat belajar.

Dalam pandangan Islam, memuliakan manusia dimulai dari memenuhi kebutuhan dasarnya, lalu mengangkat derajatnya melalui ilmu. MBG berada di titik awal itu—memastikan tubuh terjaga, agar akal bisa bekerja, agar ilmu bisa tumbuh. Ia mengingatkan kita bahwa kecerdasan tidak lahir dari tekanan semata, tetapi dari keseimbangan antara gizi, akal, dan nilai.

Jika dijalankan dengan cerdas, diperbaiki dengan jujur, dan diintegrasikan dengan pembelajaran, MBG bukan hanya akan mengubah cara anak-anak belajar—tetapi juga cara kita memandang pendidikan. Karena sebelum kita meminta mereka berpikir tinggi, satu hal harus ditunaikan terlebih dahulu: memastikan mereka tidak lagi belajar dalam keadaan lapar, dan memastikan apa yang mereka konsumsi menjadi cahaya bagi akal, bukan sekadar pengisi perut.

 

Tulisan : Safari Hamzah

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Saputra Yokalbar

Rekomendasi

Terkini

OPINI - Dampak Nyata MBG Bagi Generasi 2045

Kamis, 9 Juli 2026 | 15:48 WIB

Ciri-Ciri Gula Darah Tinggi dan Cara Menurunkannya

Selasa, 3 Maret 2026 | 20:37 WIB

Puasa Tak Sekedar Menahan Lapar Dan Dahaga

Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:18 WIB

7 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal agar Tetap Optimal

Sabtu, 7 Februari 2026 | 13:20 WIB

Tips Diet Sehat dan Aman untuk Menurunkan Berat Badan

Sabtu, 7 Februari 2026 | 13:11 WIB
X