Setelah 3 Bulan Jalani Rehabilitasi Narkoba, Onad Ungkap Dirinya Mengidap Gejala Sindrom Peter Pan, Apa Itu?

photo author
Turnado, YoKalbar
- Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:51 WIB
Menyoroti pengakuan artis, Onadio Leonardo setelah 3 bulan jalani rehabilitasi narkoba. (Instagram.com/@onadioleonardo_official)
Menyoroti pengakuan artis, Onadio Leonardo setelah 3 bulan jalani rehabilitasi narkoba. (Instagram.com/@onadioleonardo_official)

Kiley mengidentifikasi dan menganalisis penyebab dan gejala sindrom Peter Pan, suatu kondisi yang digambarkannya sebagai keadaan psikologis dan emosional seseorang.

Hal itu yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang terutama berasal dari lingkungan orang tua dan sosial-ekonomi seorang anak laki-laki, terlebih, saat ia tumbuh menjadi dewasa.

"Ayah memiliki peran kunci dalam pertumbuhan dan perkembangan putra mereka," ungkap Kiley sebagaimana dikutip dari The Fifth Medium, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

"(Hal itu) karena anak laki-laki mencari bimbingan dan disiplin dari ayah mereka untuk memahami batasan dan mempelajari perilaku emosional dan sosial yang tepat," tambahnya.

Dalam analisanya, jika seorang ayah bersikap dingin, acuh tak acuh, dan terputus dari putranya, maka suatu kepercayaan tidak akan berkembang.

Anak laki-laki kemudian akan beralih ke ibunya yang mungkin akan terlalu memanjakan putranya sehingga menghambat kemampuannya untuk sepenuhnya mengembangkan pola pikir disiplin yang diperlukan untuk pertumbuhannya.

"Jika membiarkan perilaku kekanak-kanakannya terus berlanjut, ia akan frustrasi dengan dorongan putranya untuk mandiri dan mengambil risiko," terang Kiley.

"Lalu, meninggalkannya untuk mengurus dirinya sendiri sebelum ia siap," tandasnya.

Rasa Dendam dan Saling Menyalahkan

Berdasarkan penelitian observasionalnya sebagai seorang psikolog, Kiley mengklaim anak laki-laki yang tumbuh di keluarga yang kerap menunjukkan rasa dendam dan saling menyalahkan, ia lebih cenderung mengembangkan sindrom Peter Pan.

Kiley menyebut, seringkali orang tua ini akan tetap berada dalam hubungan yang tidak sehat dan terputus karena tekanan sosial atau keluarga dan menjaga penampilan di luar rumah.

"Untuk mengatasi ini, seorang ibu akan melakukan kompensasi berlebihan di lingkungan rumah tangga dan bergantung pada putranya, terutama putra sulung, untuk dukungan emosional," jelasnya.

"Sementara seorang ayah akan menggunakan putranya sebagai penengah untuk menghindari konflik dalam pernikahannya," sambung Kiley.

Pada akhirnya, dinamika pernikahan ini menciptakan anak yang merasa terbebani oleh keadaan emosional ibunya dan berada dalam siklus 'abadi' yang hanya ingin menyenangkan ayahnya.*

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Turnado

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X