Rangkaian Pra Festival HAM 2023, Pemkot Singkawang Gelar Sosialisasi Anti Perundungan dan Kekerasan di Sekolah

photo author
Saputra Yokalbar, YoKalbar
- Senin, 11 September 2023 | 19:20 WIB
osialisasi tentang Anti Perundungan dan Kekerasan di tingkat Sekolah Dasar di SDN 23 Singkawang pada Jumat, 8 September 2023 (YOKALBAR)
osialisasi tentang Anti Perundungan dan Kekerasan di tingkat Sekolah Dasar di SDN 23 Singkawang pada Jumat, 8 September 2023 (YOKALBAR)

 

YOKALBAR - Setiap individu sebenarnya lahir dengan ciri-ciri yang berbeda-beda, dan tidak ada yang benar-benar sempurna. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita menjadikan perbedaan atau ketidaksempurnaan seseorang sebagai bahan ejekan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Aulia Candra, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Singkawang, saat melakukan sosialisasi tentang Anti Perundungan dan Kekerasan di tingkat Sekolah Dasar di SDN 23 Singkawang pada Jumat, 8 September 2023.

Sosialisasi ini dihadiri dengan antusias oleh seluruh siswa dan siswi SDN 23 Singkawang dan dihadiri oleh Roni Dian Doni, Penyuluh Sosial Madya Komnas HAM RI.

Baca Juga: Alasan Artis Kejar Promo Shopee - Penawaran Terbaik untuk Berbelanja Online

Baca Juga: Peringati Haornas 2023, Tebas Sungai Meriahkan Ajang Lomba Perahu

Aulia Candra menjelaskan bahwa perbedaan seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang indah. Untuk membuat anak-anak lebih memahami konsep ini, ia menggunakan pelangi sebagai contoh keindahan dari keberagaman.

"Iya, siapa yang tak kenal pelangi? Pelangi memiliki beragam warna, semua berbeda-beda. Pelangi tidak akan terlihat indah jika hanya terdiri dari warna biru atau hitam saja. Oleh karena itu, kita harus menganggap keberagaman ini sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kita bisa berbeda, tetapi mari jadikan perbedaan itu sebagai unsur yang mempersatukan kita," ujar Aulia Candra.

Selain itu, Aulia Candra juga memberikan pesan kepada seluruh siswa agar mereka harus bermain dengan bijak dan tidak berlebihan saat bergurau. Hal ini penting agar tidak terjadi perkelahian yang dapat menyebabkan cedera.

"Bagi anak-anak, bolehlah bergurau, tetapi jangan sampai berlebihan. Terutama, hindari tindakan yang bisa membahayakan seperti menarik kursi teman sehingga mereka terjatuh. Ini bisa berakibat serius. Beberapa siswa bahkan bisa mengalami cacat permanen akibat tindakan semacam itu," pesan Aulia Candra.

Terakhir, Aulia Candra mengingatkan tentang poin ketujuh dalam gerakan Anti Perundungan dan Kekerasan, yaitu penggunaan media sosial. Anak-anak diperbolehkan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi harus dengan bijak dan tidak boleh menjadi penyebar berita palsu atau bermain media sosial terlalu lama. Prioritas utama mereka saat ini adalah fokus pada pendidikan.

Baca Juga: Bupati Satono Dorong Pembangunan Jembatan di Sadayan Sambas

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari Komnas HAM RI, Roni Dian Doni, mengatakan bahwa sosialisasi ini dilakukan untuk membentuk dan membimbing murid-murid agar tidak melakukan perundungan.

Roni menjelaskan bahwa menerapkan perilaku Anti Perundungan dan Anti Kekerasan di sekolah sebenarnya mencerminkan sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Saputra Yokalbar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X