OPINI - Dari Ruang Rapat ke Ruang Hidup Anak: Agenda Nyata Penanganan ATS

photo author
Saputra Yokalbar, YoKalbar
- Kamis, 9 Juli 2026 | 15:54 WIB

oleh: Safari Hamzah


Sebagai insan yang bergelut di dunia pendidikan, saya masih penasaran, sudah kesekian kalinya rapat, rapat dan rapat tentang ATS.

Tadi dikoordinasikan dengan pemakau kepentingan, jawabannya sangat normatif: kite disuruh verval, sampai nanti pendampingan.
saye renungkan, saya lapor pimpinan, sepertinya ATS kerjaan yang panjang, menyita waktu, perintahnya tentu mengawal wajar 13 tahun.

Kabar baiknya hari ini Kamis persis tanggal 21 Mei 2026, yang berarti sama persis kejadian reformasi 21 Mei 1998, yang juga kebetulan Hari Lahir Putra pertama kami, izinkan saya menyumbangkan pikiran melalui tulisan ini;


Ada kalimat yang sering meluncur sangat ringan, padahal beratnya seperti karung semen basah:
“Anaknya malas.”
“Tidak ada niat.”
“Sekarang anak-anak maunya pegang HP.”

Aneh. Di negeri ini, kadang vonis keluar lebih cepat daripada data. Label lahir lebih cepat daripada empati.


Begitu mendengar ada anak putus sekolah, sebagian orang langsung membayangkan anak yang bangun siang, bermain gim sepanjang hari, berkeliaran tanpa arah, dan menolak masa depan.


Padahal kenyataan di lapangan jauh lebih rumit.
Ada anak yang berhenti sekolah karena membantu orang tuanya berjualan.
Ada yang menjaga adiknya di rumah.
Ada yang malu karena tertinggal pelajaran.
Ada yang diam-diam menjadi korban perundungan.
Ada yang bekerja sejak pagi.
Ada yang sesungguhnya masih ingin belajar, tetapi tidak lagi menemukan alasan mengapa ia harus datang ke kelas.


Dan di sinilah masalah kita selama ini.
Kita terlalu sibuk menarik anak kembali ke sekolah, tetapi terlalu sedikit bertanya:
“Sekolah seperti apa yang membuat anak ingin kembali?”
Karena bila solusi kita hanya:
“Ayo kembali ke kelas.”
Maka itu seperti mengembalikan ikan ke akuarium yang dulu membuatnya sesak.
Yang perlu dipulangkan bukan hanya tubuhnya.
Tetapi juga semangatnya.


Selama bertahun-tahun kita terlalu sibuk menghitung angka ATS.


Padahal ATS bukan angka.


ATS adalah Rio yang tangannya hitam oleh oli di bengkel.
ATS adalah Siti yang membantu ibunya menjahit hingga larut malam.
ATS adalah Rudi yang mengangkat karung di pasar.
ATS adalah anak-anak yang diam-diam sedang bernegosiasi dengan hidup jauh sebelum waktunya.
Persoalannya, birokrasi sangat menyukai angka.
Angka rapi.
Angka patuh.
Angka mudah dimasukkan ke tabel presentasi.
Sementara manusia jauh lebih rumit.

Sebab tidak ada anak yang bercita-cita:
“Kalau besar nanti saya ingin putus sekolah.”
Tidak ada.
Anak-anak lahir dengan rasa ingin tahu.
Mereka bertanya mengapa hujan turun.
Mengapa langit biru.
Mengapa ayam tidak terbang setinggi elang.
Tetapi di tengah perjalanan, sebagian kehilangan semangatnya.
Dan yang mengkhawatirkan bukan ketika anak meninggalkan sekolah.


Yang mengkhawatirkan adalah ketika anak mulai percaya bahwa dirinya tidak cukup pintar.
Karena anak yang kehilangan sekolah masih bisa kembali belajar.
Tetapi anak yang kehilangan kepercayaan diri sering membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Saputra Yokalbar

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X