Satu Dekade Membangun Indonesia Sehat, BPJS Gelar Workshop

photo author
Saputra Yokalbar, YoKalbar
- Jumat, 27 September 2024 | 09:15 WIB
Ilustrasi BPJS Kesehatan/Pixabay
Ilustrasi BPJS Kesehatan/Pixabay

YOKALBAR -- BPJS Kesehatan menyelenggarakan Media Workshop bertajuk “Potret Satu Dekade Perjalanan Membangun Indonesia Sehat dan Menjaga Keberlangsungan Program JKN pada Pemerintahan Baru.”

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti menegaskan pencapaian penting selama 10 tahun penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Rabu (25/9).

"Per 1 September 2024, lebih dari 277 juta jiwa atau 98,67 persen penduduk Indonesia telah terdaftar sebagai peserta JKN. Capaian ini sekaligus mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan cakupan Universal Health Coverage (UHC) tercepat di dunia, dalam satu dekade. Jika
dibandingkan dengan capaian UHC di negara lain, seperti Korea Selatan, memerlukan 12 tahun
untuk mencapainya,” ungkap Ghufron.


Ghufron juga menjelaskan, dalam upaya menjaga keberlanjutan Program JKN, BPJS Kesehatan terus memperkuat kemitraan dengan 23.294 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan 3.140
fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL).

BPJS Kesehatan juga memperluas layanan
kesehatan di Daerah Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan Memenuhi Syarat (DBTFMS) di wilayah
Tertinggal, Terdepan, dan Terluar
"Pada 2014, tercatat 92,3 juta pemanfaatan per tahun, dan pada 2023 jumlahnya meningkat menjadi
606,7 juta pemanfaatan per tahun, atau sekitar 1,7 juta pemanfaatan setiap hari.

Hal ini membuktikan bahwa masyarakat semakin memanfaatkan akses kesehatan yang disediakan oleh
JKN,” tambahnya.


Inovasi teknologi menjadi kunci peningkatan layanan, Ghufron menuturkan melalui Aplikasi Mobile
JKN memungkinkan peserta untuk mengambil antrean online, mengubah data, hingga mencari
informasi.

Hal ini sejalan dengant transformasi mutu layanan BPJS Kesehatan, dengan memberikan
layanan yang semakin mudah, cepat, dan setara bagi seluruh peserta JKN.


“Keberhasilan Program JKN menarik minat banyak negara untuk mempelajari sistem
penyelenggaraan Program JKN. Negara-negara seperti Inggris, Korea Selatan, dan Malaysia. Tak hanya itu, organisasi internasional seperti World Bank, Joint Learning Network (JLN), dan
International Social Security Association (ISSA) telah menjadikan BPJS Kesehatan sebagai modeldalam penyelenggaraan jaminan kesehatan di kancah global. Pada Maret 2024, ISSA bahkan
menggelar The 17th ISSA International Conference on ICT in Social Security di Bali, dengan BPJS
Kesehatan sebagai tuan rumah,” ujar Ghufron.


Menghadapi pemerintahan baru, BPJS Kesehatan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan Program JKN.

Ghufron menjelaskan bahwa melalui penguatan cadangan dana JKN melalui pengelolaan aset dan likuiditas yang lebih optimal, serta kerja sama
erat dengan pemerintah menjadi kunci utama dalam mendukung kesinambungan Program JKN.


“Salah satu tantangan yang dihadapi BPJS Kesehatan adalah meningkatnya kasus penyakit berbiaya katastropik, seperti hipertensi, diabetes, dan kanker, yang pada 2023 mencapai Rp34,7
triliun.

Untuk mengatasi hal ini, BPJS Kesehatan tengah gencar menyosialisasikan skrining
kesehatan secara dini dan mengelola penyakit kronis melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis.


(Prolanis), yang menyediakan layanan khusus bagi penderita diabetes dan hipertensi,” terang Ghufron.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi menyatakan bahwa capaian UHC melalui Program JKN di Indonesia ini terbilang sangat cepat dibandingkan dengan negara maju sekali pun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Saputra Yokalbar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X