Pontianak — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat mencatat sebanyak 355 desa dan kelurahan di wilayahnya memiliki potensi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini disampaikan oleh Kasatgas Informasi BPBD Kalbar, Daniel, yang juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan BPBD kabupaten dan kota melalui dukungan peralatan penanganan bencana.
“Sebanyak 355 desa atau kelurahan yang berpotensi karhutla itu tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Keinginan kami di BPBD Provinsi adalah memperkuat semuanya dengan peralatan. Namun, saat ini masih terkendala keterbatasan anggaran,” ujar Daniel.
Baca Juga: Terima Bantuan Peralatan Pemadaman Karhutla, BPBD Melawi Apresiasi Provinsi
Baca Juga: Delapan Remaja Tersesat di Puncak Loncek, Ketua PMI Mempawah Tekankan Pentingnya Edukasi Keselamatan
Menurutnya, pengadaan peralatan bukan dilakukan oleh pemerintah provinsi, melainkan merupakan bantuan dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah provinsi hanya berperan sebagai penyalur ke daerah-daerah yang memenuhi kriteria rawan karhutla.
“Kita berharap semua komponen bisa mendapatkan, tetapi sekali lagi, ini bantuan dari BNPB. Kriterianya, daerah tersebut harus memiliki wilayah dengan potensi karhutla,” jelasnya.
Sejumlah kabupaten seperti Melawi, Mempawah, dan Kubu Raya sudah menerima bantuan peralatan seperti pompa jinjing, pompa apung, selang, dan APD karhutla. Sementara itu, kabupaten lainnya seperti Ketapang juga terdata sebagai penerima, namun belum mengambil peralatan yang tersedia.
“Yang saya ingat, Melawi, Mempawah, dan Kubu Raya sudah menerima. Ketapang juga, dan mungkin masih ada kabupaten lain yang barangnya sudah ada di sini, tetapi belum diambil. Karena keterbatasan anggaran di provinsi, maka kabupaten dan kota diharapkan mengambil sendiri peralatan tersebut,” tambah Daniel.
BPBD Kalbar berharap distribusi bantuan ini dapat segera merata ke seluruh kabupaten/kota, guna memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi meningkat menjelang puncak musim kemarau.