YOKALBAR -- Website Puspen TNI tersebut membuat siaran pers dengan judul ‘TNI Merangkul Pendemo Di Rempang’ yang diunggah pada Minggu 17 September sore.
Link tersebut kemudian diikuti dengan foto Panglima TNI sedang merangkul warga dan berisikan berita mengenai klarifikasi terkait penggunaan istilah piting atau memiting yang dilontarkan Panglima TNI dalam menyikapi permasalahan Rempang.
Masalah kemudian muncul ketika netizen menemukan foto yang digunakan adalah foto ketika Panglima TNI pulang kampung ke Madiun seperti yang diunggah oleh website bangsaonline pada 11 maret silam, jadi bukan foto Panglima sedang merangkul warga rempang layaknya judul berita tersebut.
Netizen terutama di X atau twitter kemudian menilai jika ini adalah upaya framing yang dilakukan oleh Puspen TNI, namun keburu berhasil diketahui oleh netizen.
akun @aspixxx misalnya menuliskan 'sekelas puspen tni, dipikir rakyat bodoh' tulisnya.
Adapun rilis dengan judul ‘TNI Merangkul Pendemo Di Rempang’ berbunyi seperti berikut ini :
Beberapa hari terakhir ini beredar video viral Panglima TNI menyampaikan instruksi kepada komandan satuan bawahan terkait penanganan demo masa di wilayah Rempang, Kepulauan Riau. Video ini menjadi viral di masyarakat karena terdapat pernyataan Panglima yang memerintahkan prajuritnya untuk memiting masyarakat yang melakukan demonstrasi.
Baca Juga: Resmikan Gedung Satpas, Kapolda Kalbar Pesan Pelayanan Polisi Harus Semakin Baik Kepada Masyarakat
Baca Juga: Bahaya Virus Nipah, Ketahui Gejalanya
Menanggapi hal tersebut, Kapuspen TNI Laksda TNI Julius Widjojono mengatakan bahwa ada salah pemahaman dari masyarakat atas pernyataan tersebut, karena konteksnya berbeda. "Jika dilihat secara utuh dalam video tersebut, Panglima TNI sedang menjelaskan bahwa demo yang terjadi di Rempang sudah mengarah pada tindakan anarkisme yang dapat membahayakan baik aparat maupun masyarakat itu sendiri, sehingga meminta agar masing-masing pihak untuk manahan diri," ujar Kapuspen TNI yang disampaikan di Ruang Balai Wartawan, Puspen TNI, Jumat (15/9/2023).
Lebih lanjut Kapuspen TNI menyampaikan bahwa Panglima TNI menginstruksikan kepada Komandan Satuan untuk melarang prajurit menggunakan alat/senjata, dalam mengamankan aksi demo Rempang, hal tersebut untuk menghindari korban, sehingga lebih baik menurunkan prajurit lebih banyak dari pada menggunakan peralatan yang bisa mematikan. "Panglima mengatakan, jangan memakai senjata, tapi turunkan personel untuk mengamankan demo itu," ujarnya.
Artikel Terkait
Bukan Kaleng-kaleng, 11 Peserta dari Madrasah Aliyah Berhasil Tembus Samsung Innovation Campus
10.300 PPPK Kementerian Agama, Menag Ucapkan Terimakasih Kepada KemenPANRB
Resmikan Gedung Satpas, Kapolda Kalbar Pesan Pelayanan Polisi Harus Semakin Baik Kepada Masyarakat
Bahaya Virus Nipah, Ketahui Gejalanya