Trump Ancam Rebut Uranium Iran Secara “Paksa” jika Negosiasi Mentok

photo author
Turnado, YoKalbar
- Minggu, 19 April 2026 | 14:44 WIB
Donald Trump, Presiden AS blokade pelabuhan Iran (Tangkap layar YouTube PBS News Hous )
Donald Trump, Presiden AS blokade pelabuhan Iran (Tangkap layar YouTube PBS News Hous )

YOKALBAR - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat menyusul pernyataan keras Presiden AS, Donald Trump, terkait program nuklir Teheran. Trump disebut membuka kemungkinan langkah paksa untuk mengamankan uranium Iran apabila jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.

Isu ini mencuat di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara mengenai pembatasan program nuklir Iran, termasuk soal pengayaan dan kepemilikan stok uranium.

Negosiasi Mandek, Opsi Keras Muncul

Dalam beberapa pekan terakhir, pembicaraan antara AS dan Iran dilaporkan mengalami kebuntuan. Salah satu titik krusial adalah tuntutan Washington agar Iran membatasi bahkan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Trump sebelumnya juga mengancam akan mengambil tindakan militer jika kesepakatan tidak tercapai. Ia menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki kemampuan nuklir yang dapat mengarah pada senjata.

Bahkan, dalam perkembangan terbaru, Trump dikabarkan mempertimbangkan opsi “mengambil” atau mengamankan uranium Iran secara langsung jika negosiasi gagal total—sebuah langkah yang dinilai berisiko tinggi memicu konflik terbuka.

Klaim Trump Dibantah Iran

Di sisi lain, Iran dengan tegas menolak tekanan tersebut. Pemerintah Teheran menyatakan tidak pernah ada pembahasan untuk menyerahkan uranium ke pihak mana pun, termasuk AS.

“Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Trump yang sebelumnya menyebut Iran siap menyerahkan seluruh stok uranium sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Situasi semakin rumit karena ketegangan di kawasan Timur Tengah juga meningkat, termasuk terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Pejabat Iran menyebut tuntutan AS sebagai “maksimalis” dan menegaskan tidak akan menyerahkan uranium dalam kondisi apa pun.

Sementara itu, Trump tetap bersikeras bahwa Iran harus menghentikan ambisi nuklirnya, bahkan mengklaim Teheran sempat menunjukkan sinyal kesediaan melepas stok uranium—klaim yang kemudian dibantah Iran.

Risiko Konflik Terbuka

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Turnado

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X