Hezbollah Tegaskan Tak Turun Tangan Jika Serangan AS ke Iran Terbatas, Khamenei Jadi Garis Merah

photo author
Turnado, YoKalbar
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 23:50 WIB
Hezbollah Serukan Perang Total Bila Iran Diserbu Musuh. (iranintl.com)
Hezbollah Serukan Perang Total Bila Iran Diserbu Musuh. (iranintl.com)

YOKALBAR - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat di tengah spekulasi potensi serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Kelompok milisi Lebanon, Hezbollah, menyatakan tidak akan terlibat langsung apabila Washington melancarkan operasi militer yang bersifat terbatas.

Namun, sikap tersebut disebut dapat berubah drastis apabila serangan mengarah pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, atau bertujuan menjatuhkan pemerintahan di Teheran.

Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat Hezbollah kepada AFP dan dikutip sejumlah media internasional. Intinya, selama operasi militer Amerika tidak menyasar figur kunci negara atau upaya penggulingan rezim, kelompok tersebut memilih menahan diri.

Serangan Terbatas, Hezbollah Menunggu Perkembangan

Sumber internal Hezbollah menyebutkan, jika Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan dengan skala terbatas, organisasi tersebut tidak akan terlibat secara langsung. Sikap ini dinilai sebagai upaya mencegah konflik meluas menjadi perang regional.

Namun, Hezbollah menegaskan adanya garis merah yang jelas. Jika target serangan mencakup Khamenei atau ada indikasi kuat untuk menggulingkan pemerintahan Iran, maka opsi keterlibatan militer akan dipertimbangkan.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa konflik antara Washington dan Teheran dapat meluas ke Lebanon, Suriah, hingga Israel. Hezbollah sendiri dikenal sebagai sekutu strategis Iran dengan hubungan militer dan ideologis yang erat.

Israel Peringatkan Lebanon

Di sisi lain, Israel dilaporkan telah memberikan peringatan keras kepada Lebanon. Dua pejabat senior Lebanon mengatakan kepada Reuters bahwa Israel siap memperluas sasaran serangan hingga ke infrastruktur sipil apabila Hezbollah ikut campur dalam konflik AS–Iran.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, secara terbuka meminta Hezbollah tidak menyeret negaranya ke dalam konflik baru yang berpotensi memperburuk stabilitas domestik. Lebanon saat ini masih menghadapi krisis ekonomi dan politik berkepanjangan.

Hubungan Israel dan Hezbollah memang telah lama diwarnai konfrontasi bersenjata. Meski sebelumnya terjadi konflik yang melemahkan kekuatan kelompok tersebut, sejumlah analis menilai kapasitas militernya belum sepenuhnya lumpuh dan masih menjadi faktor penting dalam keseimbangan kekuatan kawasan.

Tekanan Nuklir dan Negosiasi

Sementara itu, Presiden Trump kembali menekan Iran terkait isu program nuklir. Ia menilai Teheran belum memberikan komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Di tengah meningkatnya retorika, militer AS dilaporkan memperkuat kehadirannya di kawasan Teluk sebagai sinyal kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Turnado

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X