Dalam lingkup yang lebih luas, sungkeman alih-alih dipermasalahkan, justru seharusnya menjadi refleksi atas relasi sosial kita hari ini. Ketika otoritas moral semakin terpinggirkan oleh popularitas instan, dan ketika ilmu sering kali diperlakukan sebagai komoditas, tradisi seperti sungkeman mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah proses yang melibatkan hati, bukan hanya pikiran. Ia adalah proses yang menumbuhkan rasa hormat, bukan sekadar keterampilan.
Oleh karena itu, menjaga tradisi sungkeman bukan berarti menolak kemajuan, tetapi justru menegaskan bahwa kemajuan tanpa adab adalah kemunduran yang tersembunyi. Di tengah transformasi sosial yang cepat, pesantren dan tradisi-tradisinya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai luhur. Sungkeman adalah salah satu cara kita menjaga warisan itu tetap hidup, bukan sebagai ritual kosong, tetapi sebagai pengingat bahwa ilmu adalah amanah, dan guru adalah cahaya.
Jika pendidikan modern ingin kembali menyentuh jiwa, maka ia harus belajar dari pesantren: bahwa sebelum ilmu ditanamkan, adab harus ditumbuhkan. Dan dalam tradisi sungkeman, kita menemukan benih-benih itu tumbuh dengan penuh kesadaran dan cinta.
Artikel Terkait
Pemerintah Kota Singkawang Mengucapkan Selamat Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Dunia
JPP Promedia Gelar Forum Diskusi Bersama Suzuki Indomobil Sales, Bahas Perang Harga di Industri Otomotif hingga Strategi di Pasar Hybrid
Selamat Hari Jadi Kabupaten Landak
TNI AL Kirim Tim Barongsai Kodaeral XII di Festival Budaya se-Kalbar di Singkawang
Imigrasi Ketapang Dorong Penguatan Sinergi TIMPORA untuk Jaga Stabilitas Keamanan