kalbar

Tradisi Sungkeman Santri, Moralitas di Tengah Himpitan Modernitas

Rabu, 15 Oktober 2025 | 09:40 WIB
Dr. Yusuf, M.HI, Alumni Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan dan Ponpes Al-Aqobah Tebuireng Jombang. Foto istimewa (yokalbar )

Dalam lingkup yang lebih luas, sungkeman alih-alih dipermasalahkan, justru seharusnya menjadi refleksi atas relasi sosial kita hari ini. Ketika otoritas moral semakin terpinggirkan oleh popularitas instan, dan ketika ilmu sering kali diperlakukan sebagai komoditas, tradisi seperti sungkeman mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah proses yang melibatkan hati, bukan hanya pikiran. Ia adalah proses yang menumbuhkan rasa hormat, bukan sekadar keterampilan.

Oleh karena itu, menjaga tradisi sungkeman bukan berarti menolak kemajuan, tetapi justru menegaskan bahwa kemajuan tanpa adab adalah kemunduran yang tersembunyi. Di tengah transformasi sosial yang cepat, pesantren dan tradisi-tradisinya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai luhur. Sungkeman adalah salah satu cara kita menjaga warisan itu tetap hidup, bukan sebagai ritual kosong, tetapi sebagai pengingat bahwa ilmu adalah amanah, dan guru adalah cahaya.

Jika pendidikan modern ingin kembali menyentuh jiwa, maka ia harus belajar dari pesantren: bahwa sebelum ilmu ditanamkan, adab harus ditumbuhkan. Dan dalam tradisi sungkeman, kita menemukan benih-benih itu tumbuh dengan penuh kesadaran dan cinta.

Halaman:

Tags

Terkini