YOKALBAR -- Aksi kekerasan yang terus terjadi di tanah Palestina oleh Israel membuat publik diseluruh dunia mengecamnya. Tidak terkecuali di Kalimantan Barat.
“Aksi Peringatan Hari Al Quds Internasional ini adalah bentuk solidaritas masyarakat Kalimantan Barat terhadap bangsa Palestina,” ujar Ahmad Tanjung, Koordinator Aksi Al Quds Internasional Kalimantan Barat.
Hal itu diungkapkannya di sela-sela aksi damai di Bundaran Tugu Digulis, Pontianak, Jumat (14/04/2023).
Hari Al Quds Internasional diperingati di seluruh dunia pada Jumat terakhir Ramadhan.
“Aksi ini rutin digelar setiap tahunnya untuk mengingatkan kembali kepada dunia bahwa masih ada masalah besar yang belum selesai, yakni masalah penindasan yang dialami bangsa Palestina,” paparnya.
Aksi yang digelar sejak pukul 16.00 WIB ini diikuti puluhan warga, baik perempuan dan laki-laki, serta dewasa dan anak-anak.
“Penindasan yang dilakukan entitas zionis israel telah berlangsung lebih dari 70 tahun. Sementara banyak negara di dunia yang bungkam. Karena itulah penting aksi ini untuk terus dihidupkan,” tegas Tanjung.
Muhammad Darwin, Koordinator Koalisi Aksi, dalam orasinya menyatakan bahwa pembelaan terhadap Palestina adalah sikap rasional dan ideologis bangsa Indonesia.
“Keliru jika kita mengatakan Palestina ini hanya urusan agama atau hanya urusan negara-negara di Asia Barat.
Masalah Palestina adalah masalah tanggungjawab kita terhadap negara yang pernah memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia,” ucapnya.
Pernyataan itu senada dengan tema Aksi Al Quds Internasional 2023 di Pontianak, yakni Tolak Normalisasi, Tegakkan Konstitusi.
Darwin menjelaskan aksi ini adalah amanat konstitusi Indonesia.
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” katanya.
Darwin mengulang Pembukaan UUD 1945. Sikap ini, papar Darwin, meneruskan sikap Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno, yang pernah menyatakan bahwa selama kemerdekaan bangsa Palestina tidak diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itu pula bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.
“Sehingga hanya ada satu solusi untuk Palestina, one state solution, satu negara Palestina. Palestina yang multietnis, multi agama, milik seluruh pecinta keadilan. Inilah amanat pendiri negeri ini,” tutupnya.