Yokalbar - Puputan Badung adalah sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi di Bali, Indonesia, pada tahun 1906.
Peristiwa ini adalah bagian dari perlawanan terakhir raja-raja Bali terhadap pemerintahan Belanda yang mencoba menguasai pulau tersebut.
Pada awal abad ke-20, Belanda telah lama berusaha untuk menguasai Bali.
Baca Juga: Perpustakaan Tertua di Indonesia: Jejak Budaya yang Tak Tergantikan
Salah satu langkah penting dalam upaya ini adalah menggantikan sistem pemerintahan tradisional Bali dengan administrasi kolonial Belanda.
Raja-raja Bali dianggap sebagai pemimpin tradisional yang menghalangi usaha Belanda untuk mengendalikan pulau ini.
Pada tahun 1904, pemerintah Belanda mengeluarkan ultimatum kepada raja-raja Bali, termasuk Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, untuk menerima penjajahan Belanda dan menyerahkan kendali atas pemerintahan pulau kepada mereka.
Namun, raja-raja Bali menolak ultimatum ini, dan pada tahun 1906, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor General M.B. Rost van Tonningen melancarkan serangan besar-besaran terhadap istana Raja Badung di Denpasar.
Puputan Badung berlangsung pada tanggal 20 September 1906. Raja Badung dan ratusan pengikutnya, termasuk anggota keluarga kerajaan dan pejabat pemerintahan, memilih untuk melakukan puputan (perang bunuh diri kolektif) daripada menyerah kepada pasukan Belanda.
Mereka membakar istana dan melakukan serangan terakhir dengan senjata tradisional mereka, seperti keris dan tombak, terhadap pasukan Belanda yang lebih modern dan bersenjatakan senjata api.
Puputan Badung berakhir tragis dengan kematian Raja Badung dan hampir seluruh anggota kerajaan serta pejabat pemerintahan Bali yang terlibat dalam peristiwa ini.
Ini adalah momen yang sangat penting dalam sejarah Bali, yang mencerminkan semangat perlawanan Bali terhadap penjajahan asing, meskipun akhirnya mereka kalah dalam pertempuran tersebut.
Puputan Badung menjadi salah satu peristiwa yang menggambarkan semangat dan kebanggaan Bali dalam menjaga identitas dan budaya mereka, bahkan dalam menghadapi penjajahan.
Hari ini, peristiwa ini diingat sebagai bagian penting dari sejarah Bali dan menjadi simbol perlawanan dan keberanian dalam menjaga tradisi dan budaya Bali.
Artikel Terkait
Pesan jokowi di Depan Ribuan Mahasiswa Hindu : Jaga Hutan Jaga Air dan Green Energy
Pelaku Penggelapan Mobil Bersenjata di Padang Lawat Diringkus Polisi, Petugas Temukan Senjata Air Soft Gun
BRI Imbau Jaga Kerahasiaan Data Transaksi, Uang Hilang Akibat Kelalaian Nasabah Tidak Diganti
Perpustakaan Tertua di Indonesia: Jejak Budaya yang Tak Tergantikan
Waspada Berbagai Penipuan Social Engineering, Begini Tips Dari BRI