“Kalau di kebun, saya tidak tahu alam yang berkuasa. Di sini saya hanya menunggu kapan menerima insentif,” kalimat itu diucapkannya dengan senyum kecil.
Dengan bekerja di dapur MBG, ia juga merasa bangga bisa menghadirkan senampan makanan sarat gizi untuk anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Anak kandung Frederick memang belum menjadi penerima manfaat MBG. Namun ia merasa bangga setiap kali melihat porsi makanan tersaji untuk para siswa.
Ia tahu betul kondisi di kampungnya. “Kadang anak-anak makan atau enggak, mereka jalan saja pergi sekolah. Dan itu membuat anak jadi lemah, bahkan pingsan”.
Setelah ada MBG, Frederick menilai suasananya berbeda. “Mungkin lewat adanya sentuhan MBG ini, ya saya rasa anak itu senang. Senang sekali. Dan bahkan kita orang tua juga sangat senang,” ujarnya.
Di dapur itu, Frederick tak hanya memotong ayam dan sayur. Ia merasa ikut memotong rantai lapar yang selama ini mengintai anak-anak desa.
Di akhir perbincangan, Frederick menyampaikan harapan sederhana. “Secara pribadi, ucapan limpah terima kasih bagi Pak Presiden Prabowo Subianto lewat adanya program MBG ini. Harapan saya, setelah masa Pak Prabowo, siapapun presidennya program ini akan tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Di antara uap panas masakan dan suara denting alat dapur, Frederick seperti menemukan kembali harga dirinya. Dapur MBG bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia mendapatkan kesempatan kedua untuk berdamai dengan masa lalu dan menata ulang masa depannya.
Artikel Terkait
Wamen HAM Puas saat Cek Dapur MBG di Polres Singkawang
Muncul Polemik Tata Kelola MBG Imbas Skandal Keracunan di Daerah, Anak-anak Dinilai Jadi Kelompok Rentan
Momen Anak Makan MBG di Tengah Banjir: Terima Kasih Pak Prabowo, Program Bermanfaat
Bandingkan MBG dengan Lapangan Pekerjaan, Kepala Bappenas Sebut Makan Bergizi Lebih Mendesak untuk Dijalankan
Mobil MBG Menabrak Gerbang SD di Kebumen, Sopir Sempat Mengamuk hingga Layangkan Pukulan ke Warga