“Hanya sanksi administratif tidak permanen, seperti diskorsing mengajar selama 2 semester,” tulisnya.
Aryanto mempertanyakan kemungkinan dosen bermasalah tetap kembali mengajar setelah sanksi selesai, serta dampaknya terhadap rasa aman mahasiswa.
Klaim Ada Kasus Lain dan Dugaan Penutupan oleh Kampus
Dalam cuitannya, Aryanto juga menyebut dugaan kasus kekerasan seksual di Unsoed “terlampau banyak” namun menurutnya ditutupi pihak kampus.
Ia menyebut nama dosen muda di Fakultas Ekonomi bernama Muhammad Syah Fibrika Ramadhan, yang dituduh sebagai predator terhadap mahasiswa bimbingannya.
“Beberapa korban telah melaporkan perbuatan dosen ini, namun pihak kampus menutupi,” tulis Aryanto.
Ia juga menyebut adanya cerita kronologi yang diklaim telah disampaikan kepada pihak kampus oleh pacar korban.
Singgung Wakil Rektor III dan Dugaan Bisnis Hiburan
Aryanto turut menyoroti sosok Wakil Rektor III Unsoed bernama Norman Arie Prayogo, yang disebutnya kerap tampil dengan pakaian dan aksesori berkelas.
Ia menuliskan dugaan bahwa Norman memiliki bisnis restoran dan bisnis hiburan karaoke, sehingga disebut mendapat julukan “BOS LC” di kalangan mahasiswa.
Aryanto juga menyinggung laporan LHKPN yang menurutnya menunjukkan harta sebesar Rp 1,19 miliar.
“Dengan jabatan Warek III bidang kemahasiswaan, rasanya tidak pernah kami menerima manfaat dari orang ini, kecuali pamer pakaian mewah lengkap dengan aksesorisnya,” tulis Aryanto.
Isu UKT dan Dugaan Permainan Anggaran Penerimaan Mahasiswa Baru
Selain kekerasan seksual, Aryanto menyebut mahasiswa juga pernah melakukan demonstrasi terkait penurunan biaya UKT. Ia menilai terdapat “kekuatan” di balik rektorat yang mengendalikan stabilitas kampus.
Aryanto juga menyampaikan dugaan adanya permainan anggaran penerimaan mahasiswa baru, terutama di Fakultas Kedokteran. Ia menuliskan rumor adanya calon mahasiswa yang tidak lolos pengumuman namun kemudian mengikuti perkuliahan.