Ia menyebut dekan Fakultas Kedokteran Rudi Prihatno disebut tidak harmonis dengan rektor karena isu tersebut.
Aryanto kemudian menuliskan analogi terkait besaran UKT mahasiswa kedokteran yang ia sebut rata-rata Rp 500 juta dan dikalikan 100 mahasiswa menjadi Rp 50 miliar.
“Itu baru analogi dari satu jurusan kedokteran,” tulisnya.
Menjelang Pemilihan Rektor, Sebut Kandidat dan Dugaan Politik Internal
Aryanto menyebut Rektor Unsoed saat ini bernama Akhmad Sodiq dan masa jabatannya disebut akan segera berakhir sehingga kampus akan memasuki pemilihan rektor.
Ia menyebut terdapat tiga kandidat, yakni Ali Rohman, Adi Indrayanto, dan Khavid Faozi, namun menilai semuanya bagian dari skema untuk mempertahankan kekuasaan petahana.
Dalam cuitannya, Aryanto menyebut Ali Rohman berasal dari FISIP dan menyebutnya sebagai sosok oportunis, serta mengaitkan nama Ali dengan Muhammadiyah dan sejumlah tokoh lokal yang disebut berperan dalam dinamika politik kampus.
Aryanto juga menyinggung adanya nama-nama seperti Muhammad Djohar, Nur Fauzi, Eko Suyono, Yedi Sumaryadi, Norman Arie Prayogo, serta Nana Sutikna dalam narasi yang ia tuliskan.
Selain itu, Aryanto menyebut Akhmad Sodiq berasal dari NU dan menuliskan bahwa ia berupaya mendekati jalur politik melalui Gerindra.
Ia menyoroti adanya papan nama “GRIYA NOVITA WIJAYANTI” pada proyek rusun mahasiswa dan mempertanyakan alasan penggunaan nama tersebut.
Desak Ketegasan Kemendikti
Aryanto menegaskan bahwa kekerasan seksual di kampus harus mendapat tindakan tegas dari Kemendikti dan penegakan hukum.
“Dosen predator jangan dilindungi rektorat,” tulisnya.
Ia juga menyebut nama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dan menuntut ketegasan serta mekanisme yang jelas terhadap dosen yang disebut melakukan kekerasan seksual.
Soroti Fenomena Kotak Kosong dan Menurunnya Partisipasi Pemira