YOKALBAR – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya harapan pasar terhadap meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Prospek pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis utama yang mendorong koreksi harga, sekaligus membuka peluang kembalinya pasokan minyak global ke pasar.
Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent turun ke kisaran 90 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah hingga sekitar 83 dolar AS per barel.
Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga sempat bertahan tinggi di atas 95–100 dolar AS per barel akibat meningkatnya tensi geopolitik.
Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai bahwa pasar energi global saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi dibandingkan kondisi riil di lapangan.
Menurutnya, sinyal diplomasi yang mengarah pada perdamaian langsung menurunkan premi risiko (risk premium) dalam harga minyak.
“Pasar bergerak lebih cepat dari realitas. Ketika ada sinyal damai, pelaku pasar langsung mengantisipasi tambahan pasokan, terutama dari Iran, sehingga harga terkoreksi,” ujarnya, di Jakarta, 18 April 2026.
Selain itu, komitmen Iran untuk menjaga jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz tetap terbuka turut memperkuat sentimen positif.
Jalur ini diketahui menjadi salah satu titik vital dalam perdagangan minyak dunia, sehingga stabilitasnya sangat menentukan harga energi global.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tren penurunan ini masih bersifat sementara dan sangat bergantung pada keberlanjutan proses diplomasi.
Risiko kegagalan negosiasi maupun munculnya konflik baru masih berpotensi membalikkan arah harga secara cepat.
Dari perspektif nasional, dampak penurunan harga minyak terhadap Indonesia menunjukkan pola yang tidak seragam antar daerah.
Wilayah dengan basis ekonomi non-migas seperti pertanian, industri, dan pariwisata cenderung diuntungkan karena penurunan biaya energi dan transportasi dapat menekan inflasi serta meningkatkan daya beli masyarakat.