Lubang Tanam Adakan Pameran Out Box Exhibition di Singkawang

photo author
Saputra Yokalbar, YoKalbar
- Rabu, 4 Juni 2025 | 20:07 WIB
Pameran seni rupa Out Box Exhibiton Singkawang
Pameran seni rupa Out Box Exhibiton Singkawang

YOKALBAR. SINGKAWANG - Sebuah ruang pameran seni rupa kembali hidup di Kota Singkawang. Kali ini, hadir dalam format kolaboratif dan penuh semangat dari komunitas seni lokal bernama Lubang Tanam Kolektif. Pameran bertajuk “Out Box Exhibition” ini resmi dibuka pada malam Minggu, 31 Mei 2025, bertempat di Rumangsa Coffee Singkawang, dan akan berlangsung hingga 14 Juni 2025.
 
Ketua Panitia sekaligus salah satu seniman peserta pameran, Yudistira Apandi, menyampaikan acara ini merupakan bentuk penciptaan ruang alternatif bagi seniman untuk berkarya dan bertemu publik.
 
“Ini pameran seni rupa yang cukup beragam. Ada karya dua dimensi, tiga dimensi, sampai instalasi. Pesan yang disampaikan pun berbeda-beda, tergantung bagaimana senimannya merespon ruang dan zaman,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa 3 Juni 2025.
 
Pameran “Out Box Exhibition” melibatkan 13 seniman, mayoritas berasal dari Singkawang, dengan sebagian lainnya datang dari Pontianak. 
 
 
Tema besar yang diangkat kali ini adalah “Mencipta Ruang, Mengeja Zaman”, sebuah narasi tentang seniman lokal berusaha menciptakan ruang-ruang kreatif sekaligus menanggapi perubahan zaman yang terus bergerak.
 
Menurut Yudhistira, pemilihan judul “Out Box Exhibition” berasal dari obrolan santai antar anggota komunitas, yang merefleksikan keinginan untuk keluar dari batas-batas—baik batas ruang, ekspresi, maupun batas sosial dalam dunia seni itu sendiri.
 
“Out Box Exhibition ini bukan cuma soal pameran, tapi ajang untuk berkumpul, berdiskusi, dan akhirnya berpameran bersama. Jadi bukan sekadar tempat pamer karya, tapi juga ruang hidup,” ungkapnya.
 
Tak ada batasan gaya maupun media dalam pameran ini. Para seniman diberi kebebasan penuh dalam menginterpretasikan tema. Bahkan dalam penataan ruang pun, pendekatan multi-konsep diusung. 
 
 
Layout dipertimbangkan agar setiap karya punya ruang bernafas, namun tetap bisa saling menyapa.
 
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah milik Yudhistira sendiri—instalasi manekin yang dibalut potongan celana jeans, disertai mesin jahit dan potongan celana yang tampak melayang di udara.
 
“Karya ini mencoba merespon perilaku manusia hari ini. Tentang bagaimana manusia sekarang semakin tidak terlihat jati dirinya, karena sudah banyak dikemas oleh media. Jadi manekin ini jadi simbol manusia yang dikemas entah laki-laki atau perempuan dan sudah hampir tak tampak orisinalitasnya,” jelasnya.
 
Lebih dari sekadar pameran, “Out Box Exhibition” adalah bentuk respon terhadap minimnya ruang seni di Kota Singkawang. 
 
Selama ini, seniman-seniman lokal hanya mengandalkan ruang terbatas di kafe atau ruang komunitas untuk menampilkan karyanya. 
 
“Kita lihat ruang di Singkawang masih minim buat seni. Makanya saat ada yang mau mewadahi, langsung kita respon,” kata Yudhistira.
 
Persiapan pameran ini memakan waktu sekitar dua minggu, termasuk pengecatan, pemasangan lampu, hingga penataan ruang. Walau dengan segala keterbatasan, semangat gotong royong membuat semua bisa terlaksana dengan baik.
 
Sayangnya, dari sisi jumlah pengunjung, Yudhistira mengakui pameran seni di Singkawang masih belum mendapatkan antusiasme yang luas. Kebanyakan pengunjung adalah teman dekat para seniman, atau teman yang diajak oleh teman lainnya.
 
 
 
 “Tantangan kita itu pengunjung. Masih sedikit. Tapi setidaknya ini jadi awal, jadi ruang pengenalan buat karya kawan-kawan. Harapannya nanti akan muncul seniman-seniman baru, dengan bentuk karya yang beragam,” imbuhnya.
 
Pameran ini dibuka gratis saat malam pembukaan, dan di hari-hari selanjutnya hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Jam operasional pun fleksibel, biasanya hingga pukul 10 atau 11 malam.
 
Dengan suasana yang santai, musik yang lembut, dan aroma kopi yang menyapa, “Out Box Exhibition” menjadi tempat ideal untuk menikmati seni sembari bersantai. 
 
Ruang ini bukan hanya untuk seniman, tapi juga untuk siapa saja yang ingin menyelami pemikiran kreatif dan ikut berdialog dengan zaman.
 
“Mungkin kecil, mungkin sederhana, tapi dari sinilah kami percaya perubahan bisa dimulai,” tutup Yudhistira.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Saputra Yokalbar

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X