Komitmen memperkuat persatuan, toleransi, serta peran pesantren dalam pembangunan daerah kembali ditegaskan melalui 12/2025).pelantikan pengurus Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) masa khidmat 2025–2030, yang digelar di Aula Garuda Kantor Pelayanan Terpadu Kawasan Kantor Gubernur Kalbar, Minggu
Pelantikan tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Wagub Kalbar), Krisantus Kurniawan, serta dihadiri Ketua Umum JKSN Asep Saifuddin Chalim, Ketua JKSN Provinsi Kalbar Tg. Jasmin Harris, Anggota DPR RI, unsur DPRD Provinsi Kalbar, pimpinan pondok pesantren, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Mengawali sambutannya, Wagub Kalbar berharap JKSN menjadi kekuatan moral dan sosial yang memperkaya kehidupan keberagamaan di Kalbar, sekaligus memperkuat nilai persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
“Harapan saya, JKSN dapat menjadi kekuatan yang dapat memperkaya ekosistem sosial dan keagamaan di Kalbar. Pesantren dengan tradisi keilmuannya dan keteladanan moralnya telah lama menjadi pondasi penting dalam membangun karakter bangsa,” harap Krisantus.
Wagub mengungkapkan kedekatannya secara personal dengan dunia pesantren, meskipun berlatar belakang agama yang berbeda. Ia juga mengungkapkan bahwa pesantren telah membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan yang mandiri dan berkontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Saya memang beragama Katolik, tetapi saya memiliki banyak saudara yang beragama Islam, dan saya juga mengasuh pondok pesantren. Saya tahu betul bagaimana beratnya mengelola pesantren, mulai dari pendidikan, kehidupan santri, hingga pembiayaan yang sebagian besar ditanggung secara mandiri,” ungkapnya.
Ia mengakui bahwa pesantren harus mendapat perhatian yang layak dari Pemerintah, mengingat kontribusi pesantren terhadap dunia pendidikan dan pembinaan generasi muda sangat luar biasa.
“Saya akui kontribusi pesantren dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangat besar dan harus mendapat perhatian yang layak dari pemerintah,” tegasnya.
Dirinya menjelaskan bahwa kondisi pesantren di Kalbar berbeda dengan di Pulau Jawa yang memiliki jumlah santri sangat besar. Meski demikian, pesantren di Kalbar tetap mampu bertahan dan mandiri dengan segala keterbatasan yang ada.
“Di Kalbar, jumlah santri tidak sebanyak di Jawa, namun dengan keterbatasan itu, pesantren masih mampu membiayai pendidikan dan kehidupan santri secara mandiri, ini adalah kekuatan yang harus kita dukung,” jelasnya.
Kedepannya, Wagub memastikan pemerintah daerah akan terus berupaya memberikan perhatian lebih besar kepada pondok pesantren, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi pusat pengembangan pendidikan keagamaan.
“Sebagai Wakil Gubernur, saya berkomitmen untuk terus mendorong agar pondok pesantren di Kalimantan Barat mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah daerah,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menolak segala bentuk konflik yang berpotensi memecah belah masyarakat. Ia sampaikan bahwa Kalimantan Barat adalah rumah besar bagi semua.
“Saya cinta damai, sejak kami terpilih, saya selalu sampaikan tidak ada lagi istilah pendatang dan non-pendatang, asli dan tidak asli. Pada hakikatnya kita semua satu keturunan, keturunan Adam dan Hawa,” pungkasnya.