YOKALBAR - Tokoh agama Banten, H Embay Mulya Syarif, angkat bicara soal laporan terhadap komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya. Ia menilai ada narasi dalam materi yang disampaikan Pandji yang berpotensi melecehkan ibadah umat Islam dan memicu ketersinggungan publik.
Ketua Umum PB Mathla'ul Anwar, H Embay Mulya Syarif menyampaikan bahwa pernyataan Pandji Pragiwaksono yang ramai diperbincangkan publik memang memunculkan tafsir negatif di tengah masyarakat. Terutama di kalangan umat Islam.
Menurutnya, narasi yang disampaikan Pandji dalam ilustrasi terkait salat dinilai tidak pantas dan menyinggung nilai-nilai ibadah.
“Memang ada narasi yang sepertinya melecehkan ibadah umat Islam. Itu akhirnya membuat masyarakat, terutama umat Islam, merasa dilecehkan,” ujar Embay dikediamannya, Kagungan, Kota Serang, Minggu, 25 Januari 2026
Ia menegaskan bahwa reaksi masyarakat merupakan hal yang wajar. Setiap agama, kata dia, akan bereaksi jika ajaran dan ritual ibadahnya dianggap direndahkan. Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam.
“Kalau semua agama dilecehkan, pasti marah. Bangsa ini beragam. Agamanya berbeda-beda, adatnya juga berbeda,” kata Embay.
Terkait laporan yang sudah dilayangkan oleh sejumlah organisasi masyarakat Islam ke Polda Metro Jaya, Embay berharap langkah tersebut menjadi sarana pembelajaran.
Ia menilai Pandji Pragiwaksono kemungkinan belum memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam.
“Karena katanya dia juga beragama Islam. Bisa jadi pemahamannya masih dangkal. Mudah-mudahan dengan adanya laporan ini menjadi pembelajaran,” ujarnya.
Embay menekankan bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki batas. Menurutnya, mencari penghidupan melalui profesi apa pun adalah hak setiap orang. Namun, hal tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara menyinggung isu suku, agama, ras, dan antargolongan.
“Silakan mencari kehidupan dengan cara apa pun. Tapi jangan menyinggung suasana SARA. Jangan asal bicara tanpa empati,” tegasnya.
Menanggapi klaim Pandji yang menyebut materinya hanya sebatas komedi, Embay menilai cara penyampaian menjadi persoalan utama. Apalagi, ilustrasi yang digunakan berkaitan langsung dengan ibadah salat dan dianalogikan dengan konteks lain yang sensitif.
“Kalau dia menganggap itu hanya materi komedi, tetap harus dilihat dampaknya. Mengilustrasikan salat dengan analogi tertentu jelas sensitif,” katanya.
Embay juga menyinggung latar belakang cara berpikir Pandji yang dinilai terlalu rasional dan materialistis. Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep kecerdasan manusia yang tidak hanya diukur dari aspek intelektual.
Artikel Terkait
Layaknya Waterboom, Viral Anak-anak Bekasi Justru Asyik Main Air saat Banjir
Perumahan di Sukawangi Bekasi Dilanda Banjir, Warga Terpaksa Mengungsi Setelah Air Kian Meninggi
Bencana Longsor di Cisarua Bandung Barat: 8 Orang Ditemukan Meninggal Dunia, 82 Korban Masih dalam Pencarian
Tiba di Tanah Air, Prabowo Bawa Oleh-Oleh Investasi Rp90 Triliun hingga Peluang Perdamaian Gaza
Jembatan Terus Dibangun, Desa-desa di Tapanuli Kian Tersambung