Kisah Nur dan Kejutan MBG untuk Ayah di Sigi: Cemas yang Berujung Tangis Haru

photo author
Turnado, YoKalbar
- Jumat, 27 Februari 2026 | 01:27 WIB
Kisah Nur dan Kejutan MBG untuk Ayah di Sigi (Ist)
Kisah Nur dan Kejutan MBG untuk Ayah di Sigi (Ist)

YOKALBAR – Telepon tiba-tiba berdering pada malam Jumat, selepas makan malam di rumah Nur Rahmadani, siswi kelas VII salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Suara guru di ujung sana terdengar menanyakan satu hal: tulisan di ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ayah Nur terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tetapi cukup membuat pikirannya cemas. Ia membayangkan kemungkinan yang tidak-tidak. Jangan-jangan anaknya melakukan kesalahan. Jangan-jangan ada kata yang keliru. Ibunda Nur mengingat jelas kegelisahan suaminya malam itu.

“Malam Jumat, selesai makan, ada telepon dari gurunya ama dari sekolah. ‘Nur, kau yang tulis tadi di MBG.’ Dia (ayah Nur) takut. Takut itu siapa tahu kena marah,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, belum lama ini.

Kegelisahan itu muncul sesaat setelah Nur menulis surat kecil di ompreng MBG. Isinya sederhana: “Kakak MBG tolong buatkan menu enak untuk kejutan ayah saya yang berulang tahun besok (Jumat) karena saya tidak punya uang.”

Menurut sang ibu, ayah Nur tak bisa langsung tenang. “Jadi papanya batunggu itu. ‘Kenapa ini?’ Oh, berarti betul sudah, begitu ibu gurunya bilang. Betul sudah, berarti Nur Rahmadani sudah,” tuturnya. Sang ayah menunggu kelanjutan kabar dengan perasaan campur aduk. Ia tak tahu bahwa tulisan kecil di ompreng itu bukanlah kesalahan, melainkan ungkapan tulus seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya.

Keesokan harinya, kecemasan yang sempat menyelimuti rumah itu berubah menjadi haru. “Oh, besok kau ada surprise dari MBG,” begitu pesan yang diterima. Ibunda Nur menahan tangis saat mengenangnya.

“Pas besoknya, ternyata, Masya Allah, tak kalah melebihi yang kami duga,” ujarnya. “Banyak yang kasih kejutan di ulang tahun papanya,” ujarnya.

Kejutan itu bukan sekadar perayaan ulang tahun. Bagi keluarga ini, ada rasa diperhatikan yang datang melalui cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Ibunda Nur berharap program tersebut terus berlanjut. “Harapan untuk MBG tetap dipertahankan, itu terutama. Tidak usah didengar orang di luar sana,” katanya.

“Ini program yang baru, tapi bisa untuk semuanya. Utamanya untuk anak-anak, pasti lebih banyak yang terbantu. Sebagian besar, kalau bisa ditanya satu persatu, mungkin sangat terbantu. Sangat sekali terbantu,” sambungnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas digulirkannya program tersebut. “Makasih yang terbaik untuk anak-anak bangsa.”

Lebih dari Sekadar Makan Siang

Bagi Nur, ompreng MBG bukan sekadar wadah makan. Sebelum ada program ini, ia sering berangkat sekolah dengan sarapan seadanya. Kadang hanya makan sedikit. Saat pelajaran berlangsung, perutnya terasa lapar. Ia sulit fokus dan mudah mengantuk sebelum jam sekolah selesai.

“Tapi sekarang, sejak ada makan bergizi gratis di sekolah kami, semuanya berubah,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Turnado

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X