Sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, tercatat lebih dari 30 serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah.
Data dari perusahaan analitik energi Vortexa menunjukkan adanya puluhan pergerakan kapal tanker terkait Iran, baik masuk maupun keluar dari Teluk Persia, meski tidak semuanya dipastikan mencapai pasar global.
Kendati gencatan senjata masih berlangsung, kebuntuan di sektor maritim terus berlanjut.
Iran dinilai memiliki keunggulan strategis dalam mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata tidak akan bermakna selama blokade laut oleh AS masih berlangsung.
Ia juga menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sulit dilakukan tanpa adanya kesepakatan yang adil.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa pihaknya belum memutuskan untuk melanjutkan perundingan baru, dan menuding AS tidak menunjukkan itikad baik dalam proses diplomasi.
Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat di Teheran mulai merasakan dampaknya secara langsung, dengan kekhawatiran terhadap masa depan konflik yang belum jelas apakah akan menuju perdamaian atau justru semakin meluas.
Artikel Terkait
Sinyal Damai Iran Tekan Harga Minyak, Ekonom Kupas Dampak Berbeda di RI
Ramai Isu Jalur Viral Selat Hormuz Tutup Lagi, dari Ultimatum Donald Trump sampai AS yang Dinilai Langgar Janji
Kenapa AS Terus Soroti Nuklir Iran, Tapi Tidak Negara Lain? Ini Penjelasannya
Trump Ancam Rebut Uranium Iran Secara “Paksa” jika Negosiasi Mentok
Blokade Memanas! Militer AS Hentikan 3 Tanker Minyak Iran di Perairan Asia