10 Siswa SMP di Pontianak Terlibat Praktek Seks Menyimpang, KPPAD Kalbar Ungkap Temuan

photo author
Saputra Yokalbar, YoKalbar
- Jumat, 21 Februari 2025 | 11:29 WIB
Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati  (yokalbar )
Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati (yokalbar )

 

YOKALBAR PONTIANAK- Praktek seks menyimpang, seperti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) sudah mulai menjerat anak di Kota Pontianak. Tercatat 10 siswa SMP di Kota Pontianak terlibat atas praktek menyimpang tersebut.

Hal ini terungkap ketika adanya orang tua salah satu siswa yang melaporkan kepada sekolah. Kemudian dari pihak sekolah melaporkan atas keresahan tersebut ke KPPAD Kalimantan Barat.

Ketua KPPAD Kalimantan Barat, Eka Nurhayati membenarkan terkait adanya praktek seks menyimpang yang diduga dilakukan 10 anak SMP di Kota Pontianak.

ADV Pelantikan Walikota Wakil Walikota Singkawang
ADV Pelantikan Walikota Wakil Walikota Singkawang (yokalbar )

Baca Juga: RS Abdul Aziz Singkawang Bakal Bangun Area Parkir Khusus

Baca Juga: Pelantikan Walikota Wakil Walikota Singkawang

"Ada 10 siswa di salah satu SMP di Pontianak yang terlibat dan melakukan praktek seks menyimpang. Bahkan hal ini dilakukan di area sekolah," ungkap Ketua KPPAD Kalimantan Barat, Eka Nurhayati, Jumat 21 Februari 2025.

Menurut Eka, pihak sekolah sendiri tak mengetahui adanya praktek seks menyimpang yang dilakukan peserta didik tersebut. Dimana kasus ini terungkap ketika salah satu orang tua melaporkan kepada guru di sekolah.

"Dalam laporan tersebut, orang tua menyebut sang anak menerima pesan undangan grup WhatsApp praktek menyimpang sesama siswa pria," ungkap Eka.

Lanjut Eka, tentunya perilaku 10 siswa tersebut membuat miris dunia pendidikan di Kota Pontianak. Di mana praktek LGBT sangat tidak pantas untuk dinormalisasikan.

"10 siswa ini yang masih duduk dibangku SMP tersebut, tercatat di dalam komunitas praktek seks menyimpang," ujar Eka.

Eka menyatakan, bahwa anak-anak ini masuk dalam komunitas LGBT tersebut, yakni berawal dari aplikasi Wallah. Di mana melalui aplikasi Wallah tersebut digunakan anak untuk membangun suatu jaringan komunitas praktek seks menyimpang.

"Dari aplikasi Walla kemudian berlanjut di grup WhatsApp," beber Eka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Saputra Yokalbar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X