YOKALBAR, Sambas — Keterbatasan akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Sambas mendorong tumbuh pesatnya usaha kios BBM eceran yang dikenal masyarakat sebagai Pertamini.
Di tengah minimnya infrastruktur SPBU, kehadiran Pertamini menjadi fenomena yang tak terelakkan—namun memunculkan perdebatan: apakah ini solusi nyata atau justru masalah baru?
Diketahui, Kabupaten Sambas saat ini hanya memiliki sekitar 18 SPBU yang tersebar di 19 kecamatan dengan total 195 desa.
Kondisi ini menyebabkan banyak wilayah, terutama desa pesisir yang dihuni nelayan serta daerah pedalaman, belum terlayani secara optimal.
Bahkan di Kota Sambas sebagai ibu kota kabupaten, tidak terdapat SPBU yang beroperasi selama 24 jam. Sebagian besar SPBU sudah tutup pada sore hari, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan BBM di malam hari atau saat kebutuhan mendesak.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk membuka usaha kios BBM eceran. Pertamini pun bermunculan, tidak hanya di desa-desa terpencil, tetapi juga di ibu kota kecamatan hingga pusat kabupaten.
Di satu sisi, keberadaan Pertamini dianggap sebagai solusi praktis.
Masyarakat tidak perlu menempuh jarak jauh ke SPBU, terutama bagi nelayan yang membutuhkan BBM untuk melaut atau warga desa yang bergantung pada kendaraan untuk aktivitas sehari-hari.
Pertamini juga membuka lapangan usaha baru bagi masyarakat lokal.
Namun di sisi lain, keberadaan Pertamini juga menimbulkan sejumlah persoalan.
Dari segi harga, BBM yang dijual umumnya lebih mahal dibandingkan harga resmi di SPBU.
Selain itu, aspek keamanan dan standar operasional menjadi perhatian, mengingat banyak kios yang belum memenuhi standar penyimpanan dan distribusi BBM yang aman.
Tidak hanya itu, legalitas usaha Pertamini juga sering menjadi sorotan.
Sebagian besar beroperasi tanpa izin resmi, sehingga berpotensi menimbulkan masalah hukum maupun kerugian negara dari sisi distribusi BBM bersubsidi yang tidak tepat sasaran.
Artikel Terkait
Ngabuburit di Kota Pontianak Semakin Semarak, Warga Padati Ruang Publik Jelang Berbuka
Lonjakan Harga Sembako di Awal Ramadan, Warga Sambas Terbebani
Distribusi Perdana MBG Ramadan Tuai Kritik, Korwil SPPG Sambas Berikan Penjelasan
Sambut Mudik Lebaran 2026, Pemerintah Kebut Perbaikan Jalan Berlubang di Jalur Pantura
727 Peserta Ramaikan Pawai Festival Cap Go Meh Singkawang 2026