YOKALBAR PONTIANAK – Menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat telah melakukan pemetaan terhadap wilayah rawan dan mempersiapkan langkah antisipasi secara menyeluruh. Sebanyak 125 kecamatan di Kalbar yang mencakup 355 desa diketahui berpotensi mengalami kebakaran lahan.
Kasatgas Informasi BPBD Provinsi Kalbar, Daniel, menyampaikan bahwa langkah pemetaan ini menjadi dasar dalam upaya deteksi dini dan pencegahan.
“Kita sudah memetakan 125 kecamatan di Kalimantan Barat yang berpotensi karhutla, dengan total 355 desa,” ujar Daniel, Senin (6/5).
Baca Juga: Norsan Fokuskan RPJMD 2025–2029 pada Infrastruktur, Energi Baru, dan Industri Kreatif
Baca Juga: Gubernur Norsan Komitmen Dukung Atlet Disabilitas di NPCI Kalbar 2025
Ia menjelaskan, meskipun belum memasuki fase bencana secara masif, pihaknya telah mendorong seluruh BPBD kabupaten dan kota untuk mulai bersinergi dengan berbagai instansi terkait, guna melaksanakan patroli rutin di wilayah rawan.
“Kita berdasarkan pemetaan ini sudah mendorong seluruh BPBD kabupaten dan kota untuk bersinergi dengan instansi terkait untuk melakukan patroli. Meskipun kita belum masuk ke situasi yang masif dalam soal bencana ini, kita tetap menganalisa daerah-daerah yang berpotensi terbakar,” jelasnya.
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, BPBD Kalbar juga telah menyalurkan sejumlah peralatan penanggulangan karhutla ke beberapa daerah. Salah satu yang menjadi fokus distribusi adalah sepeda motor yang telah dilengkapi dengan satu set mesin pompa air.
“Dalam awal 2025 ini kita sudah mendistribusikan peralatan karhutla, antara lain sepeda motor yang satu set dengan mesin pompa. Kita distribusikan ke beberapa kabupaten/kota, walaupun unit masih terbatas,” katanya.
Selain peralatan, seluruh personel BPBD baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi telah disiagakan untuk menghadapi perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Status siaga pun diberlakukan sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi kebakaran.
“Kita sudah mensiagakan seluruh personel dan peralatan di seluruh BPBD kabupaten/kota termasuk provinsi apabila cuaca berubah. Karena cuaca sekarang ini sewaktu-waktu bisa berubah, oleh karena itu kita siaga,” tegas Daniel.
Langkah antisipatif ini diharapkan dapat mempercepat respon dan meminimalkan dampak jika karhutla terjadi, mengingat bencana asap menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan aktivitas masyarakat Kalbar setiap musim kemarau.