Terkait persoalan lahan di Kelurahan Sagatani, menurut penuturan Lumes, sebelumnya SL meminta dirinya untuk menjadi penengah dan meminta tolong untuk menyampaikan pesan dari pihak yang mengaku sebagai korban penyerobotan kepada pihak Tjhai Chui Mie untuk mengganti kerugian dengan nilai yang sudah ditentukan oleh pihak tersebut.
Padahal, perihal penyerobotan lahan tersebut merupakan klaim sepihak. Hal ini juga diperkuat dengan pengecekan yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang menyatakan tidak menemukan nama Tjhai Chui Mie pada sertifikat di lokasi yang diklaim diserobot.
Selain itu, Febrianto Lumes bersyukur sekaligus berterimakasih kepada Timanggong, Pengurus DAD, dan pihak lainnya atas terselenggaranya ritual adat Capo' Molot ini.
"Setelah ritual ini selesai, saya merasa lebih tenang, tidak ada beban pikiran lagi," ucap Lumes. (*)